KKP Arahkan Pemasaran ke Timteng dan Afrika
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong ekspor produk perikanan ke pangsa pasar Timur Tengah (Timteng) dan Afrika. Upaya yang awalnya ditempuh hanya untuk mengantisipasi penurunan ekspor ke Jepang, Amerika Serikat AS), dan Uni Eropa (UE) ini ternyata mendapat respons positif.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, selama ini pangsa pasar di dua kawasan ini masih belum tergarap dengan baik. "Tapi. setelah kita buka ternyata permintaannya sangat luar biasa. Dan, persyaratannya pun tak seberat bila kita pasarkan ke Uni Eropa," katanya usai acara pelepasan ekspor produk perikanan ke Timteng dan Afrika dalam rangka diversifikasi pasar di Surabaya, Senin (18/1).
Berdasarkan data di KKP, kedua kawasan ini mengimpor produk perikanan hingga 1,07 miliar dolar AS. Sementara Indonesia pada 2007 hanya mampu mengekspor ke Timteng dan Afrika masing-masing sebesar 44,2 juta dolar AS dan 42,5 juta dolar AS. "Ini harapan baru bagi para nelayan dan penambak untuk megembangkan usahanya di kemudian hari," tutur Fadel.
Selama ini, negara pemasok produk perikanan ke negara-negara Timteng masih didominasi Thailand, China, dan Belgia. Pada umumnya produk yang memasuki kawasan ini meliputi ikan sarden, makarel, tuna, bandeng, dan udang.
"Indonesia bisa menjadi penguasa pasar produk perikanan pada 2014 mendatang. Karena ltu, Timteng dan Afrika yang merupakan pasar potensial harus digarap secara terencana dan sistematis," ucapnya
Meski demikian, pembukaan pangsa pasar baru tidak lantas akan meninggalkan pasar lama yang sudah terbentuk. Dalam hal ini permintaan dari Timteng dan Afrika sangat layak untuk diperhitungkan karena angkanya mencapai 1 miliar dolar AS per tahun.
Di bagian lain, KKPjuga sudah mempersiapkan program revitalisasi tambak seluas 1.000 hektare di Jatim. Apalagi provinsi ini merupakan wilayah penyumbang 36 persen hasil udang nasional. "Kami sangat serius mendahulukan pelaksanaan program ini di Jatim," ujamya. Pemberdayaan sektor perikanan merupakan salah satu kunci dalam rangka menghadapi kesepakatan perdagangan bebas [free trade agreement/FT A). Sementara itu, Plant Manager CV Pasific Harvest Banyuwangi Edi Sukamto mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara pemasok produk perikanan ke Afnka, dan siap memasok minimal 30 peti kemas yang masing-masing berbobot 15 ton per bulan. Produk perikanan ini merupakan hasil tangkapan nelayan dan Selat Bali dan berbagai kawasan di seki-tar Banyuwangi. "Selama ini kendalanya memang soal pasar. Karena itu, adanya terobosan pasar sangat diharapkan. Dengan potensi yang dimiliki, maka target peningkatan ekspor produk perikanan akan mudah untuk direalisasikan. (Andira) Sumber : Suara Karya 19 Januari 2010.Hal.7
|