AP5I: Revitalisasi tambak pacu produk pengolahan ikan
Senin, 18 Januari 2010
SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Jawa Timur (Jatim), Djohan Suryadarma, berharap produksi industri pengolahan ikan di Jatim akan mengalami peningkatan seiring dengan program revitalisasi tambak oleh pemerintah pusat.
"Kalau sekarang industri pengolahan ikan di Jatim hanya mampu berproduksi sekitar 45% dari kapasitas terpasang pabrik, maka dengan langkah ini kami berharap produksi akan meningkat menjadi 60% dari kapasitas," kata Djohan Suryadharma di Hotel JW Marriot, Surabaya, Senin (18/1/10). Dikatakan Djohan, selama ini, industri perikanan Jatim hanya mampu berproduksi sekitar 45% dari kapasitas terpasang. Hal ini disebabkan oleh sulitnya pasokan bahan baku. Bahkan menurutnya, produksi ikan Jatim hanya mampu memasok bahan baku untuk industri pengolahan Jatim sebesar 1.000 ton per bulan. Padahal kebutuhannya mencapai 6.000 ton per per bulan. "Selama ini, pasokan sangat terbatas. Perbandingannya sekitar 1 banding 6, dari kebutuhan sekitar 6.000 ton per bulan hanya mampu memasok sekitar 1.000 per per bulan," akunya. Lebih lanjut Djohan mengatakan, sejauh ini, karena minimnya pasokan, maka industri pengolahan ikan Jatim berupaya mendapatkan bahan baku dari luar pulau. Seperti dari Lombok, Kalimantan dan beberapa daerah luar pulau lainnya. Hal senada juga dikatakan oleh General Manager PT Bumi Menara Internusa, Hendra Horatian, bahwa perusahaannya hanya mampu memproduksi sekitar 900 ton per bulan dari kapasitas terpasang pabrik sekitar 1.800 ton per bulan. "Karena kesulitan bahan baku, kami hanya bisa memproduksi sekitar 40%-50% dari kapasitas produksi kami. Atau sekitar 900 ton per bulan dari 1.800 ton per bulan," katanya |