2011, Indonesia targetkan ekspor induk udang Vaname

Sabtu, 28 November 2009

JAKARTA - Pada tahun 2011, Indonesia menargetkan produksi induk udang Vaname Nusantara I sebanyak 1,3 juta ekor, sehingga Indonesia berpeluang untuk melakukan ekspor induk Vaname.

Pemenuhan indukan udang Vaname Nusantara I yang diluncurkan pada Mei 2009 tersebut, akan memperkuat mata rantai produksi perikanan nasional.

Tahun ini, Indonesia masih melakukan impor induk vaname sebanyak 320 ribu ekor. Adapun kebutuhan dalam negeri untuk induk Vaname mencapai 900 ribu hingga 963 ribu ekor per tahun.

“Untuk itu, impor induk udang vaname harus segera dihentikan. Penghentian impor induk ini penting untuk mendorong pengembangan usaha produksi induk udang yang sedang berkembang di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam siaran persnya, Sabtu (28/11/09).

Pada kesempatan panen udang Vaname Nusantara I di Lampung, Sabtu (28/11/09), Fadel juga menegaskan bahwa tindakan ini diyakini akan menaikkan permintaan induk udang nasional yang pada akhirnya akan meningkatkan swasembada induk udang.

Keberadaan broodstock center kita, sambungnya, dinilai telah berhasil memproduksi induk udang Vaname yang kualitasnya lebih baik dari indukan impor.

Menurut Fadel, komoditas udang masih merupakan komoditas perikanan budidaya yang memberikan kontribusi ekspor cukup besar. “Oleh karenanya sangat penting untuk dikembangkan, disamping itu juga untuk memenuhi permintaan konsumsi dalam negeri,” katanya.

Pada periode 2010-2014, produksi udang nasional diharapkan dapat meningkat sebesar 74,75 %, yaitu dari 400.000 ton menjadi 699.000 ton, yang terdiri dari udang vaname (Penaeus vanammei) dan udang windu (Penaeus monodon).

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Made L. Nurdjana, hasil pemuliaan vaname nusantara I hanya membutukan waktu 6 bulan pemeliharaan untuk mencapai ukuran induk (>40 g) atau 3 bulan lebih cepat dibandingkan saat diintroduksi.

Keberlangsungan hidup benur udang ini juga relatif lebih baik dibandingkan benur asal induk impor asalnya, Florida Amerika Serikat. Selain itu, biaya produksi satu pasang induk, varietas baru ini sangat jauh lebih murah yakni berkisar antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 75 ribu.

“Sedangkan bila pembudidaya menggunakan induk udang vaname dari Florida, Amerika Serikat membutuhkan biaya Rp. 300 ribu hingga Rp. 400 ribu. Berarti terjadi penghematan sampai 600 %,” tegas Made.

Produksi udang vaname selama ini dikembangkan dengan teknologi semi intensif dan intensif. Melalui manajemen budidaya yang lebih baik ditargetkan produksinya dapat meningkatk sebesar 17,38% per tahun, yaitu: 275 ribu ton pada tahun 2010 menjadi 500 ribu ton tahun 2014. Untuk mewujudkan hal ini, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah membangun Broodstock Center atau pusat produksi induk udang unggul vaname Nusantara di Bali, guna memenuhi kebutuhan induk udang di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan akan induk impor. Kemampuan produksi Broodstock Center tersebut diperkirakan mencapai 240 ribu ekor induk unggul per tahun dan akan menjadi Broodstock Center terbesar di dunia.

“Hasil budidaya udang Vamane dari induk Nusantara I yang telah dibudidaya di Provinsi Kalimantan Barat, Lampung dan Jawa Timur menunjukkan hasil yang memuaskan,” ungkap Made.

 

Supported by


Please wait while JT SlideShow is loading images...
Photo Title 1Photo Title 2Photo Title 3Photo Title 4Photo Title 5