|
No. B.11/PDSI/HM.310/I/2010 Siaran Pers
DAERAH TINGKATKAN PERIKANAN BUDIDAYA
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia tahun 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KemenKP) akan menggenjot peningkatan produksi perikanan budidaya hingga 353 %, yaitu dari 5,37 juta ton pada tahun 2010 menjadi 16,9 juta ton pada tahun 2014. Target tersebut dapat terwujud apabila Pemerintah Daerah dan masyarakat memiliki komitmen yang sama dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad saat membuka Forum Akselerasi Pembangunan Perikanan Budidaya 2010-2014 Wilayah Tengah di Surabaya semalam.
Penyelenggaraan forum akselerasi merupakan salah satu langkah dalam menyamakan persepsi, menyamakan strategi dan membangun komitmen antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam mencapai target produksi perikanan budidaya. Guna mencapai gagasan besar tersebut, strategi yang digunakan harus fokus. Oleh karenanya, peningkatan produksi perikanan budidaya tidak diarahkan pada semua komoditas, melainkan terutama ditekankan pada beberapa komoditas potensial. Komoditas budidaya yang saat ini pun sudah kelihatan unggul produksinya adalah rumput laut, lele, patin, bandeng dan kerapu. Namun demikian, komoditas strategis yang potensial seperti udang, nila, mutiara, dan ikan hias tentu tidak ditinggalkan.
Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Made L. Nurdjana, peningkatkan produksi perikanan budidaya sangat dimungkinkan. Beberapa faktor yang mendukung, diantaranya: (1) ketersediaan lahan untuk budidaya (laut, payau dan tawar), (2) beberapa spesies ikan komersial telah berhasil dibudidayakan, (3) penguasaan teknologi dan ketersediaan SDM, dan (4) peningkatan permintaan pasar domestik dan internasional terhadap produk perikanan.
Lompatan produksi budidaya bukan mustahil dapat diwujudkan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1949 produksi perikanan Indonesia dari kegiatan budidayanya mengungguli China, yaitu sebanyak 25 ribu ton dan China hanya 19 ribu ton. Namun demikian, produksi perikanan budidaya China semenjak tahun 1980-an melakukan lompatan besar, hingga tahun 2004 produksi perikanan budidaya mencapai 36,6 juta ton, sementara Indonesia produksi budidayanya masih diangka 3,89 juta ton.
Ditilik dari sisi potensi akuakultur, Indonesia sebenarnya jauh mengungguli China. Sebagai contoh, panjang garis pantai China hanya sekitar 32 ribu km, sedangkan Indonesia lebih dari 95 ribu km. Perairan teluk China hanya sekitar 168 ribu ha, sedangkan Indonesia memiliki 4,2 juta ha. Luas sungai China yang dapat digunakan untuk budidaya air tawar 371 ribu ha, sedangkan Indonesia 5,9 juta ha, disamping kita masih memiliki 13,6 juta ha rawa yang sebagian masih dapat digunakan untuk budidaya ikan .
Akan tetapi patut diingatkan bahwa dalam pengembangan budidaya harus tetap menerapkan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) atau Good Aquaculture Practices (GAP) agar memenuhi jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sesuai yang dipersyaratkan oleh pasar global. Selain itu, pelestarian lingkungan juga harus menjadi prasyarat utama. Dalam pengembangan budidaya, KemenKP memerlukan dukungan berbagai sektor, seperti Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk pembangunan sarana dan prasarana (jalan, saluran irigasi, jaringan air bersih dan lain-lain), Kementerian ESDM dan Pertamina untuk kemudahan mendapatkan BBM (solar) bagi unit usaha budidaya dan penyediaan jaringan listrik PLN, sektor Perbankan dan lembaga keuangan lainnya untuk penyediaan permodalan bagi masyarakat pembudidaya, dan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan pengolahan ikan dan pemasarannya.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak berubah sejak didirikan, yakni dalam memproduksi hasil perikanan, penangkapan ikan patut untuk dikendalikan karena berbagai wilayah penangkapan telah mengalami titik jenuh, bahkan overfishing (lebih tangkap). Adapun perikanan budidaya wajib untuk dikembangkan, karena potensinya masih besar dan belum dimanfaatkan, produksinya menjanjikan banyak menyumbangkan devisa bagi negara, serta berkontribusi besar dalam ketahanan pangan yang bergizi.
Jakarta, 19 Januari 2010 Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi
Dr. Soen’an H. Poernomo,M.Ed |