Patin lokal bakal geser Vietnam

JAKARTA: Produksi budi daya ikan patin (catfish) yang ditargetkan meningkat rata-rata 70% per tahun menjadi sekitar 1,883 juta pada 2014 berpeluang menggeser posisi Vietnam sebagai penghasil patin besar dunia.

Negara kompetitor di sektor perikanan budi daya itu diketahui kini sudah menghasilkan rata-rata produksi 1 juta ton patin per tahun, sementara Indonesia baru berhasil merealisasikan produksi 132.600 ton pada 2009.
Dirjen Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Made L. Nurdjana menyatakan salah satu sentra penghasil patin terbesar saat ini berpusat di Kampar, Riau. "Saat ini Vietnam menguasai pasar patin di dunia. Sebanyak 25% pasar patin di Eropa berasal dari Vietnam, padahal ikan yang dikonsumsi masyarakat Eropa 25 % berupa catfish atau patin," ujarnya ketika dihubungi Bisnis kemarin.

Dengan rencana pencetakan areal budi daya patin di sentral utama a.l. di Riau, Sumsel, Jambi, dan Kalsel, pemerintah optimistis dapat mendongkrak produksi ikan sungai yang mudah dibiakkan ini menjadi 225.000 ton pada tahun ini.

Made menuturkan Vietnam memiliki banyak kelebihan untuk produksi patin, a.l. produk yang dihasilkan telah diolah sehingga siap saji sesuai dengan selera masyarakat negara maju yang menyukai produk kuliner praktis.

Selain itu, lanjutnya, industri patin di Vietnam juga dilakukan oleh pengusaha dengan modal berbunga rendah dan upah tenaga kerja yang murah pula.

Tercemar


Meski demikian, katanya, patin asal Vietnam memiliki kelemahan, yakni produk ikan merupakan hasil budidaya di Sungai Mekong, yang telah melintasi negeri China, Thailand dan Vietnam sendiri.

"Ini juga berpotensi terjadi pencemaran air sungai yang tentunya lebih besar, sementara sekarang ini konsumen Eropa semakin ketat terhadap keamanan produk bahan makanannya," katanya.

Menurut dia, ikan yang berasal dari air tercemar akan rentan terhadap kontaminasi logam berat dan bakteri. Padahal sistem pengujian mutu di Eropa saat ini menggunakan traceability atau penelusuran asal-usul ikan.

Sementara itu, di Tanah Air, Dirjen optimis hasil produksi patin seperti di Sungai Kampar dibudidayakan pada sungai yang jauh lebih bersih. Hanya saja memerlukan pasokan pakan budidaya yang murah.

Made berencana membangun pabrik pakan ikan di Kampar. Masyarakat Kampar, katanya, dianjurkan untuk mengolah limbah kelapa sawit untuk produksi maggot yang bisa dijadikan bahan baku pakan patin.

Di lain pihak, Bupati Kampar Burhanuddin Husin menyatakan Kampar menghasilkan patin 63 ton per hari. "Tingginya produksi ini diikuti oleh ikan nila, ikan mas dan ikan lele."

Bisnis Indonesia, 11 Maret 2010

 

Supported by


Please wait while JT SlideShow is loading images...
Photo Title 1Photo Title 2Photo Title 3Photo Title 4Photo Title 5